BPS Ungkapkan Masyarakat Masih Akan Tahan Konsumsi pada Awal 2018

BPS (Badan Pusat Statistik) memperkirakan bahwa masyarakat masih bakal menahan konsumsinya di kuartal pertama tahun ini, mengikuti tren yang juga terjadi di sepanjang tahun yang lalu. tren ini pasalnya terlihat dari prediksi Indeks Tendensi Konsumsi atau ITK selama 3 bulan pertama di tahun 2018.

Konsumen Masih Enggan Beli Durable Goods

Kepala BPS, Suhariyanto, menyatakan bahwa ITK di kuartal pertama 2018 diperkirakan menyentuh angka 101,35 atau bisa dikatakan lebih pesimistis apabila dibandingkan dengan ITK kuartal IV 2017 yakni pada angka 107. Meskipun terbilang kurang optimistis, angka tersebut diperkirakan masih berada di atas basis angka 100.

Apabila indeks berada di bawah angka 100, menurutnya, maka konsumen meyakini jika konsumsi akan memburuk di periode yang selanjutnya. Akan tetapi jika angka indeks berada di angka di bawah 100, maka konsumsi diprediksi akan moncer pada periode yang berikutnya. “Perkiraan kami di Kuartal I, konsumen masih positif bahwasanya konsumsi akan membaik. Namun penurunan optimismenya agak tajam karena mereka masih memikirkan beberapa hal yang lainnya,” kata Suhariyanto pada Senin (5/2) ini.

Ia menambahkan bahwa konsumen masih optimis bahwa bakal ada perbaikan pendapatan pada kuartal I 2018. Akan tetapi masyarakat masih enggan untuk membeli sejumlah arang yang tahan lama (durable goods) seperti elektronik, kendaraan bermotor, dan juga perlatan rumah tangga atau mungkin barang lainnya yang bisa digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

Selain itu juga masyarakat masih menahan diri untuk menghelat hajatan atau beberapa jenis pesta sepanjang 3 bulan pertama di tahun ini. “Bahkan mereka juga terbilang menahan diri untuk melakukan rekreasi Togel singapura di awal tahun,” paparnya lebih lanjut.

Kecenderungan Perilaku yang Masih dipertanyakan

Kecenderungan perilaku masyarakat ini masih juga dipertanyakan oleh BPS karena pendapatan per kapita Indonesia sekarang ini sudah naik menjadi Rp. 51, 89 juta dari yang semula hanya Rp. 47,96 juta. Selain itu juga, inflasi juga terbilang stabil yaitu berada di angka 3,61% atau bisa dikatakan di bawah target tahun lalu yaitu 4%.

Akan tetapi di tengah perbaikan sentiment itu, masyarakat justru semakin meningkatkan porsi pendapatannya untuk ditabung. Sekedar gambaran saja, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan per akhir tahun 2017 tercatat sejumlah 8.3% menjadi Rp. 5.141,5 triliun. Adapaun angka pertumbuhan ini masih bisa dibilang lebih kecil apabila dibandingkan dengan konsumsi masyarakat di sepanjang tahun 2017 yang Cuma naik sebesar 4,95% saja secara tahunan atau year on year.

“Yang perlu ditelusuri adalah mengapa mereka menahannya? Apakah karena investasi, atau karena ada sesuatu yang lainnya yang menganggu mereka,” imbuhnya.

Padahal menurutnya konsumsi masyarakat adalah komponen yang paling penting dalam membentuk Produk Domestik Bruto atau PDB. Di sepanjang tahun 2017 lalu, konsumsi masyarakat mengambil porsi 56,31% dari PDB dengan pertumbuhan yang bisa dikatakan melorot dari sebesar 5,01% pada tahun 2016 ke angka 4.95% pada tahun lalu.

Untuk kembali meningkatkan konsumsi, pemerintah perlu juga memastikan bahwa inflasi cukup terkendali pada tahun ini. tidak hanya itu, pemerintah juga mesti memastikan bahwa kondisi ekonomi dan juga politik semakin stabil pada tahun ini. terlebih lagi memasuk masa-masa tahun  Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Suhariyanto mengatakan konsumsi sangat penting. Sekali ada hal yang mempengaruhi konsumsi, amka seluruh struktur PDB bisa ikut kena dampaknya juga.